Tradisi Magepokan Untuk Menghusir Roh Jahat
Piodalan sasih kelima yang dilaksanakan di Pura Puseh Desa Sembiran Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali, menjadi tanda bagi masyarakat desa untuk bersiap melaksanakan tradisi Megepokan. Diawali dengan piodalan yang dilaksanakan dari pagi sampai siang di pura. Kemudian, sore menjelang malam atau biasa disebut sandikala di atas pukul 18.00 wita seluruh warga berkumpul di Pura Puseh untuk melaksanakan tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun oleh leluhur hingga sekarang.
Tradisi yang sudah dilaksanakan setiap kali piodalan tersebut dipercaya warga sebagai cara atau simbolis agar segala kekuatan jahat yang ada di desa bisa pergi serta tidak lagi mengganggu kenyamanan masyarakat yang ada di Sembiran.
Megepokan juga dipercaya masyarakat sebagai tradisi yang bisa mengusir segala kekuatan jahat yang ada di Desa Sembiran. Hal tersebut juga dilaksanakan menjelang malam atau biasa disebut dengan sandikala. Karena masyarakat percaya bahwa kekuatan negatif atau jahat itu muncul setiap mendekati sandikala.
Salah satu tokoh yang pernah menjadi Kelian Adat di Desa Sembiran selama 12 tahun, Wayan Partayasa,73 menceritakan bahwa setiap kali bertepatan dengan piodalan sasih kelima di Pura Puseh menjelang malam seluruh warga akan berkumpul. Mereka mempersiapkan diri untuk mengikuti upacara megepokan dengan membawa tombak yang terbuat dari bambu yang ujungnya berisi hiasan dari janur. Itu akan dipakai “berperang” saat melaksanakan tradisi megepokan. Ada sekaa gong, sekaa tari baris, tukang tegen, dan gandrung yang akan ikut berkeliling desa.
“Sasih kelima di sini ada disebut tradisi megepokan dimana seluruh warga berkumpul di jaba pura setelah siangnya melaksanakan piodalan di Pura Puseh lalu menjelang malam diatas jam 18.00 wita mereka akan membawa senjata berupa bambu yang di ujungnya dihiasi dengan janur,” urainya.
Setelah berkumpul warga akan terbagi menjadi dua dimana ada pihak kelompok Krama Desa yang masuk di sini yaitu warga sudah menikah atau sudah berkeluarga. Sementara itu pihak berikutnya ada Krama Truna yang dimana anggota terdiri dari warga yang belum menikah ataupun berkeluarga.
Setelah semua berkumpul acara akan dimulai dengan bekeliling desa terlebih dahulu kemudian kembali lagi ke lokasi tepatnya di jaba pura. Sesampainya di jaba maka kedua pihak yang sudah dipisahkan tadi akan bersiap memulai peperangan dengan saling berhadapan dan dipisahkan dengan pembatas di tengah-tengah agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan nantinya.
“Setelah semua sudah kumpul baru berkeliling desa biasanya sekitar satu jam karena memang mengelilingi desa. Sampai di jaba lagi baru dua pihak krama desa dan krama truna dipisahkan dengan skat bambu sebelum mulai berperang,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Sebelum memulai melaksanakan perang-perangan di dalam arena yang sudah dipersiapkan sebelumnya maka akan ada yang di sisi selatan dan ada di sisi utara kemudian ditengahnya akan di isi dengan sekat pemisah dimana diselatan akan ada pembatasan dan diutara juga ada pembatasnya.
Selain itu akan ada salah satu warga yang memberikan komando agar bisa berjalan sesuai aturan biasanya. Baru kemudian perang dimulai dengan diarahkan agar tombak yang dibawa oleh krama diarahkan ke atas untuk beradu selama 10-15 menit dengan 3-4 kali serangan dilakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan warga yang menjadi komando dalam perang tersebut.
“Perang akan dipimpin salah seorang warga yang menjadi komando dengan lama perang 10-15 menit dengan 3-4 kali serangan tergantung komando,” imbuhnya.
Sesudah melewati perang-perangan maka sesuai dengan jalannya tradisi megepokan, maka akan dirasa sudah aman baru tarian gandrung akan dipentaskan sebagai tanda syukur dan juga hiburan setelah terjadinya perang.
Tarian gandrung sendiri menjadi tarian yang sudah dipilih sejak awal oleh para leluhur yang mewariskan tradisi tersebut dimana para penari cowok yang menggunakan hiasan joged akan menari kemudian warga juga dipersilakan untuk ngibing dan menikmati hiburan berupa tarian gandrung tersebut.
“Setelah selesai melakukan perang maka akan ada hiburan berupa tarian gandrung (cowok yang berpakaian joged) yang akan menghibur dan juga ada krama dipersilakan untuk ngibing,” tutupnya.
Sumber:
https://baliexpress.jawapos.com/bali/15/12/2019/tradisi-megepokan-upaya-mengusir-kekuatan-jahat-di-sembiran/
Tradisi yg sangat unik dan semoga masyarakat bisa mempertahankannya👍
BalasHapus