Tarian Sakral Desa Sembiran
1. Tari Nyong Nying
Nyong Nying adalah tarian sakral di Sembiran yang dipertunjukkan pada saat upacara Galungan dan Kuningan yangdirayakan di Pura Desa dan Pura Jugan. Nyong Nying d itampilkan dihalaman tengah (jaba tengah) pura oleh 4 orang, secara bertahap,yaitu dua orang secara berpasangan dengan membawa tameng dan pedang serta lawannya membawa tombak. Disusul dua orang lagi(penarinya berpasang-pasangan (2 orang laki laki) dengan membawatameng dan tombak yang menggambarkan peperangan antara dharmadan ad harma (bai k dan buruk). Tarian di lakukan pada upacaraGalungan dan Kuningan di Pura Puseh dan Jugan. Pelaksanaannyapada saat pembagian ajang (nasi beserta lauk berupa LawarBarak(merah), lawar biasa, sate, sayur, dan bagian-bagian tertentu dagingbabi yang dibagikan kepada pemuka adat.Pola g erak Tari Ny on g Ny in g adal ah pol a-pol a gerakketang kasan, olah ketrampi lan dengan m engg unakan senjatatombak, tameng, dan pedang. Kostum yang dikenakan oleh parapenari adalah busana adat Sembiran Bali secara umum. Pada bagiankepal a dilengkapi tepel (topeng) yang berbentuk seg itiga danaksesoris terbuat dari janur kering berbentuk bunga. Tari Nyong Nyingini ditampilkan oleh pemuhit, saya, dan punakawan. Instrumen yangdigunakan untuk iringan tari Nyong Nying adalah seperangkat GongGebyar dan atau Gambang. Gamelan gambang berjumlah 4, tetapiada juga gangsa jongkok (dengan 7 bilah) yang bilah-bilahnya terbuatdari besi. Ada gangsa pamero yang bilah-bilahnya dibuat dari bambu.Durasi waktu yang digunakan relatif pendek sekitar 1-2 menit setiappenampilan.
2.Tari Rejang Bunga
Tari Rejang Bunga adalah sebuah tarian yang ditarikan oleh anak perempuan yang belum menstruasi. Tari ini dilakukan secara massal, gerak-gerik tarinya sangat sederhana (polos/belum banyak variasi gerak). Ditarikan di pura pada waktu upacara, dengan mengenakan pakaian upacara (kain kemben, kebaya dan selendang yang diikatkan di pinggang). Pada saat menari, para penari berbaris melingkari halaman pura atau pelinggih. Tarian ini dilakukan dengan penuh rasa khidmat, penuh rasa pengabdian kepada bhatara bhatari.
3. Tari Rejang Tua
Tari ini memiliki gerak yang sederhana dan lemah gemulai, ditarikan secara berkelompok atau massal oleh para wanita dewasa (dengan usia beragam), di halaman pura pada saat upacara, dengan durasi 5.53 menit. Tari Rejang Tua tidak dibatasi umur dan jumlahnya karena bersifat ngayah yaitu suatu pekerjan yang dilakukan tanpa mengharap imbalan. Kostum yang dikenakan adalah pakaian adat ke pura. Tari Rejang Tua bisa diiringi dengan gamelan Gong Kebyar atau Angklung.
4. Tari Baris Jojor
Baris Jojor ditarikan dengan membawa tombak berwarna hitam oleh 12 orang penari yang sudah menikah. Durasi waktu menarinya 7.58 menit. Tarian baris yang ditarikan sekelompok penari dengan membawa senjata jojor (tombak bertangkai panjang) terdapat dalam rangkaian upacara. Tari ini juga terdapat di daerah Buleleng, Bangli, dan Karangasem. Untuk tarian Baris Jojor, sesaat menjelang menari, seluruh penari dengan membawa propertinya masingmasing (tombak) diharuskan berputar di area pura sebanyak tiga kali, mengelilingi seluruh aktivitas di pura secara berlawanan arah dengan perputaran jarum jam.
5. Tari Baris Dadap
Tari Baris Dadap merupakan tarian yang menceritakan tentang sejarah Lasem (nama sebuah tempat yang berada di Jawa Tengah). Dalam pertunjukannya tarian tersebut mengandung unsur tembang, dialog, gerak, dan musik. Gerakannya lebih lembut dibanding jenisjenis baris yang lainnya. Penari menari sambil menyanyikan tembang berlaras slendro dengan diiringi gamelan Angklung yang juga berlaras slendro dan ditarikan dalam upacara Dewa Yadnya. Kekhasan Tari Baris Dadap di Sembiran juga bisa dilihat dari pola-pola gerak, misalnya gerak kaki, tangan, dan kepala. Tari ini ditampilkan dalam durasi 13.20 menit.
Baris Dadap ditarikan oleh enam (6) orang laki-laki yang sudah menikah, penari dewasa dengan membawa properti miniatur perahu. Nama Baris Dadap diambil dari kayu dadap. Daun pohon dadap (semacam perisai menyerupai gambar jantung, kayunya tidak terlalu keras, dan berwarna putih). Kayu dan daun yang muda sering dipakai sebagai sarana dalam berbagai upacara ritual keagamaan. Kayu dan daun dadap oleh masyarakat Sembiran dan masyarakat Bali tradisional juga digunakan untuk obat penurun panas badan, terutama dadap serep atau dadap etis.
6.Tari Baris Barak
Ditarikan oleh dua belas (12) orang penari dengan membawa tombak berwarna merah, dengan durasi 10.15. Seperti halnya Tari Baris Jojor, sesaat menjelang menari Tari Baris Barak, penari dengan membawa propertinya masing-masing yaitu tombak juga diharuskan berputar di area pura sebanyak tiga kali, mengelilingi seluruh aktivitas di pura. Arah putarannya berlawanan arah dengan perputaran jarum jam.
7. Tari Baris Presi
Tari sakral yang ditarikan pada saat odalan di pura. Ditarikan oleh enam (6) penari dewasa dengan membawa properti tameng atau perisai, dalam durasi 10.44 menit. Menurut para penarinya Baris Presi adalah tari dari kerajaan/penjaga-penjaga kerajaan (mereka melihat dari busananya, yang menurut mereka seperti prajurit kerajaan). Juga untuk Tari Baris Hitam jojor yang sepertinya dari kerajaan juga karena pegang tombak, dengan gaya sedemikian rupa.
Tari Baris Presi merupakan tari sakral. Ketika ditarikan harus diiringi musik gamelan Gong Kebyar, dan mengenakan kostum tari lengkap, sehingga gerakannya menjadi hidup. Jadi jika diminta menari tanpa unsur yang yaitu gerak dan busana, tidak bisa dilakukan. Pakaian Tari Presi di simpan di Pura Bale Agung, dan tidak boleh dibawa ke kuar dari pura, sehingga busana hanya bisa untuk pentas di pura.
8.Tari Mejangli
Mejangli adalah tarian dengan gerakan-gerakan tanpa ekspersi yang dilakukan oleh Panakawan dan Pemuhit, ketika mengawali upacara minum tuak seusai tarian Nyong Nying pada upacara ritual Galungan. Mereka membawa gantang (gayung dari batok kelapa). Panakawan dan Pemuhit berbaris di depan pelinggih (tempat bersemayam dewa-dewi) lalu bergerak sambil berteriak secara serentak. Kemudian mereka berjalan berbaris menuju ke belakang Balai Gong, berkeliling mengambil tuak untuk dibagikan kepada umat.
9. Tarian Mawali
Setelah upacara minum tuak selesai, para pemuhit, panakawan, dan pemangku melakukan mawali dengan durasi 5 menit. Mereka berjalan menuju area depan pelinggih pura dan membentuk formasi berjajar ke belakang, dengan urutan: jero Suit, bahan tua, pemangku, panakawan, dan pemuhit. Pada formasi berbaris di depan pura mereka melakukan gerakan serentak disertai dengan teriakan. Pada saat Mewali diiringi dengan Gendhing Urang Obang. Berbeda ketika pembagian ajang, diringi dengan gendhing obang-obang luh.
sumber:
http://repository.isi-ska.ac.id/3131/2/BUKU%20TRADISI%20WISATA%20DESA%20SEMBIRAN.pdf
Komentar
Posting Komentar