Tradisi Ngaturin

 

 


Upacara Ngaturin Upacara ini adalah ritual yang harus dilakukan oleh setiap orang (laki-laki) yang sudah menikah. Dilaksanakan di Pura Pengaturan. Pura Pengaturan terletak di Desa/Pucak Tajun. Dilaksanakan pada sasih ganjil (katiga dan kapitu). Kewajiban menyembelih anak sapi (yang berusia 3-6 bulan) adalah sebanyak 3 tegen (1 tegen sama dengan 2 godel, sehingga jumlahnya adalah 6 godhel) tetapi apabila memiliki istri lagi (mempunyai 2 istri) maka harus tambah lagi 1 tegen jadi harus menyembelih 4 tegen (8 godel). Begitu juga apabila memiliki tanah pekarangan/membeli tanah di luar wilayah desa, maka harus menambah lagi 1 tegen

 

Pada upacara Ngaturin persembahan ditujukan kepada Batara Dalem (Dalem Tajun, Dalam Bayad, Dalem Sindu, Dalem Gelgel, Dalem Mekah) yang diupacarai bagi umat suci, Dalam Sala, Dalam Suralaya) upasatsi-nya langsung ke Batara Ngurah Gunung Lebah yang ada di Gunung Batur Batara Gunung Agung, disaksikan oleh Betara Catur Kahyangan (Pura Puseh, Dalem, Dulu, Betara Gede Pasek). Tiap upacara harus mohon saksi pada Dewa Catur Kahyangan. Upacara itu ada istilahnya ada upacara untuk agama suci betara yang disucikan dan untuk Betara Kala. Karena dulu pernah ada kepercayaan Kala sebelum turunnya agama Hindu di Sembiran pada tahun 1500-an.17 Apabila hingga meninggal belum melaksanakan Ngaturin, maka yang berkewajiban melaksanakan adalah keluarganya atau anak turunnya/keturnannya (anak, cucu, bahkan cicitnya), sampai 17 Wawancara dengan I Nyoman Sutarmi, 7 September 2011 64 Dr. I Nyoman Murtana, S.Kar., M.Hum lunas tanggung jawabnya untuk melaksanakan Ngaturin (mempersembahkan 3 tegen yang berarti 6 godel). Keberadaan orang sudah meninggal yang kewajiban Ngaturinnya dilakukan oleh keturunannya, disimbolkan dalam sebuah boneka yang terbuat dari daun lontar dengan dikenakan kain putih sebagai busananya, udeng (yang laki-laki), serta perhiasan emas yang dulu dimilikinya ketika masih hidup.

 

 Gambar 46. Kakak beradik sedang menggendong boneka dari daun lontar, sebagai simbol keberadaan kakek-nenek mereka yang sudah meninggal. Orang tuanya melaksanakan Ngaturin untuk mereka. (Foto Dokumentasi PKPBN, September 2012).

 

 Pada prosesi upacara Ngaturin, godel yang akan disembelih disaksikan dulu pada Dewa Gede di Pucak, setelah sapi diperciki tirta plukatan (dimintakan pada Dewa Catur Kahyangan ) kemudian baru disembelih. Kondisi godel yang tidak diperbolehkan digunakan sebagai persembahan (disembelih) dalam ritual Ngaturin adalah: godel yang kakinya bang dan dahinya putih. Hal itu dikarenakan godel tersebut dianggap cacat, kecuali jika godel yang telah dimiliki ekornya ujungnya putih, boleh dipakai jadi tidak harus membeli. Pada upacara ngaturin, hewan yang akan disembelih di siram dengan tirta nampul sanggah setelah diperlihatkan kepada dewa, kemudian disembelih. Tirta diambil dari rumah masing-masing, Tradisi Wisata Desa Sembiran Buleleng Bali 65 dengan istilah pengijeng, kalau di luar Sembiran disebut sanggah pekurenan (yang berada dikamar). Pengijeng itu bisa di dalam dapur, dengan dibuatkan tempat tersendiri. Masyarakat Sembiran beranggapan, jika tidak memilikinya maka kehidupannya akan hancur. Kamar suci itu pengijeng, bisa digunakan sebagai tempat memuja tirta, kalau tidak di dapur dikamar itu juga bisa. Kepala dan kaki godel yang dipotong di tempatkan di pengancapan juga iga dan kulit yang juga diletakkan di bebantenan yg namanya banten tandingan. Daging dari bagian lain serta tulang tulangnya di simbolkan kepada betara samua, berarti keseluruhan yang menerima suguhan. Petugas yang memotong-motong daging adalah masing-masing keluarga, tergantung dari jumlah keluarga.

 Gambar 47. Sesaji yang digunakan pada saat upacara Ngaturin (Foto Dokumentasi PKPBN, Agustus 2012).18 18

 Sesaji tersebut berupa; 1. Tandingan (diwadahi dengan daun pisang yang tidak terlalu lebar), 2. Pelinggih (ada pisangnya), 3. Soksok anyar: (sesaji yang diwadahi di dalam wakul/daksina (tenggok) yang terdiri dari: bas (beras), sudang (ikan gereh besar), biyu/pisang 2 ijas (2 sisir), gula, kelapa utuh dikupas tetapi ditinggalkan saputnya sedikit/segaris sampai ujung (nyuh mebalung), uang 20 ribu, keris, bungbung (bambu) 3 buah ( satu berisi darah godel, 2 berisi air pahit rebusan daun intaran, kambaligi (taruh ditampah), 1 rantang sayur Gerang (ikan teri kecil). 66 Dr. I Nyoman Murtana, S.Kar., M.Hum Mantram untuk menghaturkan persembahannya tergantung saha matah nya (kepala keluarga atau yang dituakan di keluarga). Cara menyuguhkan kepada Sang Hyang Widi dengan melalui doa yang sering digunakan dalam bahasa sehari-hari atau dengan niatnya sendiri

sumber:

http://repository.isi-ska.ac.id/3131/2/BUKU%20TRADISI%20WISATA%20DESA%20SEMBIRAN.pdf

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Magepokan Untuk Menghusir Roh Jahat

Upacara Ngundang