Tradisi "Ngelumbah" di sembiran
Apa Itu Tradisi Ngelumbah?
Tradisi "Ngelumbah" di Desa Adat Sembiran!
Menurut Lontar Yama Tattwa :
"Ngelumbah" berasal dari kata Ngumbah yg berkonotasi "Pembersihan" yaitu membersihkan Sang Atma secara spiritual yg dilakukan setelah kematian utk selanjutnya akan dibuatkan upacara "Ngundang" yg intinya Ngundang / Nuhur Ida Betara (Tuhan) utk meminta upasaksi sbg legalisir bahwa Sang Atma/pitara akan berstana/melinggih di Merajan atau dlm tradisi lain disebut "Nyekah/Meajar-ajar!
Masyarakat Sembiran tidak mengenal Ngaben. Namun ada upacara Pengelumbah yang identik dengan Ngaben. Upacara ini rangkaian dari upacara kematian. Dimana, orang meninggal di Sembiran harus dikubur dan tidak boleh dikremasi (dibakar).
Pada hari keempat setelah kematian, keluarga mengadakan upacara di Pura Mpu. Selanjutnya pada hari kesebelas, diadakan upacara Nyolasin atau Melas Atma berupa pamelas atma, dengan mengadakan sesaji di rumah atau pinggiran jalan. “Roh yang meninggal itu agar tidak terus mengikuti keluarganya,” paparnya.
Selanjutnya pada hari ke-42 setelah kematian, diadakan upacara Ngelumbah. Upacara Ngelumbah diartikan dengan ngumbah atau mabersih. Sarana yang digunakan adalah babi untuk sesaji yang diserahkan ke Pura Prajapati. Upacara inilah yang bagi masyarakat Sembiran identik dengan Ngaben.
Dalam upacara Ngelumbah itu ada prosesi ngedetin, dan dilaksanakan di Pura Penglumbahan. “Yang meninggal itu sudah malinggih di Rong Telu. Karena sudah dianggap bersih. Ngelumbah inilah upacara Ngaben versi masyarakat Sembiran. Upacaranya semua dipuput catur kayhangan,” bebernya.
Setelah itu, pada hari ke-84 atau 42 hari lagi dari upacara Ngelumbah, maka dilaksanakan upacara Ngundang atau mabersih di rumah. “Dengan sesajian babi di kamar suci tempat pemujaan kepada dewa atau leluhur,” pungkasnya.
Sumber :
https://baliexpress.jawapos.com/balinese/18/05/2021/upacara-ngelumbah-ngaben-versi-masyarakat-sembiran/
Komentar
Posting Komentar