Postingan

Tradisi Ngaturin

Gambar
    Upacara Ngaturin Upacara ini adalah ritual yang harus dilakukan oleh setiap orang (laki-laki) yang sudah menikah. Dilaksanakan di Pura Pengaturan. Pura Pengaturan terletak di Desa/Pucak Tajun. Dilaksanakan pada sasih ganjil (katiga dan kapitu). Kewajiban menyembelih anak sapi (yang berusia 3-6 bulan) adalah sebanyak 3 tegen (1 tegen sama dengan 2 godel, sehingga jumlahnya adalah 6 godhel) tetapi apabila memiliki istri lagi (mempunyai 2 istri) maka harus tambah lagi 1 tegen jadi harus menyembelih 4 tegen (8 godel). Begitu juga apabila memiliki tanah pekarangan/membeli tanah di luar wilayah desa, maka harus menambah lagi 1 tegen   Pada upacara Ngaturin persembahan ditujukan kepada Batara Dalem (Dalem Tajun, Dalam Bayad, Dalem Sindu, Dalem Gelgel, Dalem Mekah) yang diupacarai bagi umat suci, Dalam Sala, Dalam Suralaya) upasatsi-nya langsung ke Batara Ngurah Gunung Lebah yang ada di Gunung Batur Batara Gunung Agung, disaksikan oleh Betara Catur Kahyangan (Pura Puseh...

Perkembangan Tarian di Sembiran

Gambar
Tari merupakan salah satu hasil budaya yang memiliki kekhasan di setiap wilayah tempat tari tersebut tumbuh dan berkembang. Tari di Desa Sembiran memiliki keunikan yang spesifik, meskipun motif-motif gerakannya hampir sama seperti tarian Bali pada umumnya. Keunikan tari-tarian di Desa Sembiran, selain terletak pada fungsinya yang masih sakral, juga bentuknya yang menyerupai drama ritual tari dan tari perang. Tari tersebut biasanya dipersembahkan dalam kegiatan upacara yang biasanya bersifat sakral, yaitu: Tari Nyong Nying, Rejang Dewa, Rejang Bunga, Rejang Tua, Baris Panah, Baris Jojor, Baris Dhadhap, Baris Barak, dan Baris Presi. Selain tari-tarian yang bersifat sakral Kehidupan tari di Desa Sembiran tampak berkembang secara dinamis dan tetap eksis sesuai dengan fungsinya. Kenyataan demikian dikarenakan kesadaran penduduknya yang masih kuat tentang aktivitas menari sebagai persembahan kepada Sang Hyang Widi Wasa, di samping di Sembiran terdapat sanggar seni Yowana Mukti. Sehubunga...

Upacara Ngundang

Gambar
  Apa Itu Upacara Ngundang?     Upacara Ngundang Manut Lontar Yama Tattwa makna upacara Ngundang yang di daerah lain sama dengan meajar-ajar, adalah upacara setelah kematian yang dilakukan setelah upacara ngelumbah / Ngumbah = pembersihan. "Ngundang" disini maknanya mengundang Ida Betare / Hyang Widhi utk meminta upasaksi / legalisir bahwa Sang Atma sudah bersih dan selanjutnya akan beristana atau melinggih di Rong Tiga. Upacara ini cukup kapuput olih ida pemangku    Pada hari ke-84 kematian ( 42 hari lagi setelah hari ke 42 kematian) diadakan upacara Ngundang atau Mebersih di rumah dengan sesajian babi di kamar suci/ tempat pemujaan kepada dewa atau leluhur. Berkaitan dengan peristiwa kematian, ada satu hal yang perlu diketahui tentang istilah ‘sebel’. Kematian bagi masyarakat Desa Sembiran merupakan peristiwa yang menimbulkan “sebel kematian”. Apabila terjadi kematian di salah satu dadia, maka pelaksanaan odalan akan di batalkan. Pada zaman dulu apabila a...

Tradisi "Ngelumbah" di sembiran

Gambar
Apa Itu Tradisi Ngelumbah? Tradisi "Ngelumbah" di Desa Adat Sembiran! Menurut Lontar Yama Tattwa : "Ngelumbah" berasal dari kata Ngumbah yg berkonotasi "Pembersihan" yaitu membersihkan Sang Atma secara spiritual yg dilakukan setelah kematian utk selanjutnya akan dibuatkan upacara "Ngundang" yg intinya Ngundang / Nuhur Ida Betara (Tuhan) utk meminta upasaksi sbg legalisir bahwa Sang Atma/pitara akan berstana/melinggih di Merajan atau dlm tradisi lain disebut "Nyekah/Meajar-ajar! Masyarakat Sembiran tidak mengenal Ngaben. Namun ada upacara Pengelumbah yang identik dengan Ngaben. Upacara ini rangkaian dari upacara kematian. Dimana, orang meninggal di Sembiran harus dikubur dan tidak boleh dikremasi (dibakar).  Pada hari keempat setelah kematian, keluarga mengadakan upacara di Pura Mpu. Selanjutnya pada hari kesebelas, diadakan upacara Nyolasin atau Melas Atma berupa pamelas atma, dengan mengadakan sesaji di rumah atau pinggiran ja...

Tradisi Magepokan Untuk Menghusir Roh Jahat

Gambar
             Piodalan sasih kelima yang dilaksanakan di Pura Puseh Desa Sembiran Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali, menjadi tanda bagi masyarakat desa untuk bersiap melaksanakan tradisi Megepokan. Diawali dengan piodalan yang dilaksanakan dari pagi sampai siang di pura. Kemudian, sore menjelang malam atau biasa disebut sandikala di atas pukul 18.00 wita seluruh warga berkumpul di Pura Puseh untuk melaksanakan tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun oleh leluhur hingga sekarang. Tradisi yang sudah dilaksanakan setiap kali piodalan tersebut dipercaya warga sebagai cara atau simbolis agar segala kekuatan jahat yang ada di desa bisa pergi serta tidak lagi mengganggu kenyamanan masyarakat yang ada di Sembiran. Megepokan juga dipercaya masyarakat sebagai tradisi yang bisa mengusir segala kekuatan jahat yang ada di Desa Sembiran. Hal tersebut juga dilaksanakan menjelang malam atau biasa disebut dengan sandikala. Karena masyarakat percaya bahw...